Kamis, 04 Oktober 2018

MODEL PEMBELAJARAN TIPE STAD


Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Ditulis oleh :
NAMA                : RUSYDA JALAL
PROFESI            : GURU SMP NEGERI 2 GUNUNG TALANG, KABUPATEN SOLOK, SUMATERA BARAT, INDONESIA
EMAIL               : idasonie030@gmail.com
                Beberapa ahli berpendapat bahwa pembelajaran kooperatif sangat membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang sulit karena siswa dilibatkan untuk bekerja sama dalam suatu kelompok kecil guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh guru. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk meningkatkan partisipasi belajar siswa yang akan bermuara kepada peningkatan hasil belajarnya. Di samping itu juga mempersiapkan siswa agar memiliki sifat kepemimpinan dari pengalamannya  membuat keputusan dalam kelompok dan juga dalam memberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapat.
               Ciri khas pembelajaran kooperatif adalah pemberian kesempatan yang sama kepada siswa untuk berhasil. Hasil belajar yang diinginkan merupakan tanggung jawab individu terhadap apa yang telah dipelajarinya pada kelompok-kelompok kooperatif. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Slavin (1995 : 77), ada tiga konsep utama yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif yaitu, penghargaan kelompok, tanggungjawab individu dan kesempatan yang sama untuk berhasil.
               Salah satunya tipe pembelajaran kooperatif adalah “Students Achievement Team Divisions (STAD) memililiki prinsip dasar yaitu siswa bekerja sama dalam pembelajaran dan bertanggungjawab terhadap hasil belajar teman-temannya dan juga dirinya sendiri. Dalam hal ini Koes (dalam Kencana 2005 : 13), membagi model pembelajaran kooperatif tipe STAD atas empat tahap proses belajar yaitu :
a.      Tahap penyajian kelas.
               Pada tahap penyajian kelas, ada tiga komponen utama yang harus yang harus dilaksanakan yaitu :
       1) Pendahuluan
           Pendahuluan menekankan apa yang akan dipelajari siswa dalam tugas kelompok dan menginformasikan hal itu penting untuk dipelajari. Informasi tersebut bertujuan untuk memotivasi siswa dan menimbulkan ingin tahu mereka terhadap konsep-konsep yang akan dipelajari.
        2) Menjelaskan materi pembelajaran
 Materi yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Selama kegiatan ini berlangsung guru perlu memberikan pertanyaan dan umpan balik terhadap jawaban yang diberikan siswa.
        3) Latihan terbimbing
Latihan terbimbing diberikan dengan menugaskan siswa mengerjakan soal-soal atau mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pada lembar kerja siswa (LKS). Sebaiknya siswa mengerjakan satu atau dua soal, guru memberikan umpan balik dengan segera, serta memanggil secara acak agar seluruhnya mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan.
b. Kegiatan kelompok/kelas
               Selama kegiatan kelompok guru hanya bertindak sebagai fasilitator yang memonitor kegiatan setiap kelompok. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, siswa mengerjakannya secara mandiri atau berpasangan dan selanjutnya saling mencocokkan jawabannya atau memeriksa ketepatan jawabannya dengan jawaban kelompok. Jika ada teman yang belum memahami, teman sekelompoknya bertanggung jawab untuk menjelaskan sebelum meminta bantuan guru.
c. Evaluasi
                Evaluasi dikerjakan siswa secara individu dalam waktu yang telah ditentukan oleh guru. Pada saat evaluasi berlangsung siswa harus menunjukkan apa yang telah dipelajari saat bekerja dengan kelompoknya. Skor yang diperoleh siswa dalam evaluasi selanjutnya diproses untuk menentukan nilai perkembangan individu yang akan disumbangkan sebagai skor kelompok.
d. Penghargaan kelompok
 Untuk menentukan penghargaan kelompok terlebih dahulu dihitung skor tes individu dengan tujuan untuk menentukan nilai perkembangan individu yang disumbangkan sebagai skor kelompok. Nilai perkembangan individu dihitung berdasarkan selisih perolehan skor tes dahulu dengan skor tes akhir. Dengan demikian setiap anggota kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan skor maksimal bagi kelompoknya.untuk mendapatkan nilai  kelompok dilakukan dengan empat cara yaitu :
1)      Menentukan nilai dasar (ND)
Nilai dasar awal meliputi nilai rata-rata siswa pada tes terdahulu atau dapat juga digunakan nilai pre-tes. Selain itu nilai tahun lalu juga bisa digunakan seandainya diawal tahun pelajaran.
2)      Peningkatan poin
Siswa menghasilkan poin untuk kelompok mereka berdasarkan pada tingkat nilai tes mereka melebihi nilai dasar.

Tabel 2

Peningkatan poin
Nilai tes
Poin
Lebih 10 poin dibawah nilai dasar (X<ND – 10 )
5
10 – 1 di bawah nilai dasar (EL –10 £ X < ND – 1 )
10
Kurang 10 poin di atas nilai dasar (EL– £ X < ND +10)
20
Lebih 10 poin di atas nilai dasar (X ³ ND – 10 )
30
3)      Nilai kelompok
Untuk menghitung nilai kelompok, catat setiap nilai pada lembaran akhir kelompok dan pada peningkatan total poin setiap anggota kelompok dengan jumlah kelompok yang ada. Jadi jelaslah bahwa nilai diperoleh berdasarkan pada nilai peningkatan daripada nilai tes.

Tabel 3

Nilai  Kelompok

Rata- rata kelompok

Penghargaan

15
“Good team”  
20
“Great team”
25
“Super team”

Table 4. Contoh penghitungan nilai rata-rata kelompok berdasarkan TIPE STAD yang diambil dari nilai kuis tiap kali pertemuan
Siklus              : I
Pertemuan       : I
Kelompok       : Aristoteles
No.
Nama Siswa
Pre tes (P)
Kuis(K)
K – P
Poin
1.
2.
3.
4.
5.
6.
A
B
C
D
E
100
50
60
60
20
80
80
60
70
70
80
100
20
10
10
10
60
20
30
20
20
20
30
30
7.
8.
9.
Jumlah
Rata-rata
Penghargaan


Super Tim (Bintang Sains)
150
25


4)      Hitung ulang skor dasar
Setiap melaksanakan penilaian, nilai rata-rata tes dihitung ulang untuk menentukan nilai dasar siswa yang baru.
Setelah 3 atau 4 kali pertemuan dari proses pembelajaran STAD atau pada akhir masa penilaian, kelompok  siswa disusun ulang membentuk kelompok yang baru. Ini memberikan kesempatan kepada siswa yang memiliki nilai kelompok rendah untuk mendapatkan nilai kelompk yang lebih baik.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan keunggulan dari Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD antara lain :
1)      Pengetahuan yang diperoleh dibangun sendiri melalui interaksi dengan orang lain. Hal ini menyebabkan pengetahuan yang diperoleh menjadi lebih bermakna
2)      Sistem evaluasi dalam pembelajaran kooperatif Tipe STAD membangkitkan motivasi siswa untuk berusaha lebih giat lagi baik bagi dirinya sendiri maupun kelompoknya, sehingga sifat kerja sama antar siswa terjalin dengan baik.
3)      Setiap siswa mampu dan berani mengeluarkan pendapat, karena dalam kelompok terjadi kerja sama yang baik.
DAFTAR PUSTAKA


1.      Kencana, Mirah. 2005. Pengaruh Pembelajaran Konstruktivisme Sistem Kooperatif Dalam Bentuk Student Teams Achievement Divisions (STAD) Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas II Semester I SMA Negeri 8 Padang (Skripsi). Padang:UNP

2.      Nur, Muhammad.2002. Pembelajaran Kooperatif. Jawa Timur : LPMP: Jawa Timur

3.      Slavin, Robert E . 1995. Educational Psycology Theory and Practice. Boston: Allyn and Bacon
4.      Wiranata, Udin S. 2001. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: PAU-PAI Universitas Terbuka