Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Ditulis oleh :
NAMA : RUSYDA JALAL
PROFESI : GURU SMP NEGERI 2 GUNUNG TALANG,
KABUPATEN SOLOK, SUMATERA BARAT, INDONESIA
EMAIL :
idasonie030@gmail.com
Beberapa ahli berpendapat bahwa
pembelajaran kooperatif sangat membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang
sulit karena siswa dilibatkan untuk bekerja sama dalam suatu kelompok kecil
guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh guru. Tujuan dibentuknya
kelompok kooperatif adalah untuk meningkatkan partisipasi belajar siswa yang
akan bermuara kepada peningkatan hasil belajarnya. Di samping itu juga
mempersiapkan siswa agar memiliki sifat kepemimpinan dari pengalamannya membuat keputusan dalam kelompok dan juga
dalam memberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapat.
Ciri khas pembelajaran
kooperatif adalah pemberian kesempatan yang sama kepada siswa untuk berhasil.
Hasil belajar yang diinginkan merupakan tanggung jawab individu terhadap apa
yang telah dipelajarinya pada kelompok-kelompok kooperatif. Hal ini sesuai
dengan pendapat yang dikemukakan oleh Slavin (1995 : 77), ada tiga konsep utama
yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif yaitu, penghargaan kelompok,
tanggungjawab individu dan kesempatan yang sama untuk berhasil.
Salah satunya tipe pembelajaran
kooperatif adalah “Students Achievement Team Divisions (STAD) memililiki
prinsip dasar yaitu siswa bekerja sama dalam pembelajaran dan bertanggungjawab
terhadap hasil belajar teman-temannya dan juga dirinya sendiri. Dalam hal ini
Koes (dalam Kencana 2005 : 13), membagi model pembelajaran kooperatif tipe STAD
atas empat tahap proses belajar yaitu :
a. Tahap
penyajian kelas.
Pada tahap penyajian kelas, ada
tiga komponen utama yang harus yang harus dilaksanakan yaitu :
1) Pendahuluan
Pendahuluan menekankan apa yang akan dipelajari siswa dalam tugas
kelompok dan menginformasikan hal itu penting untuk dipelajari. Informasi
tersebut bertujuan untuk memotivasi siswa dan menimbulkan ingin tahu mereka
terhadap konsep-konsep yang akan dipelajari.
2)
Menjelaskan materi pembelajaran
Materi yang
disajikan hendaknya disesuaikan dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam
kelompok. Selama kegiatan ini berlangsung guru perlu memberikan pertanyaan dan
umpan balik terhadap jawaban yang diberikan siswa.
3) Latihan terbimbing
Latihan terbimbing diberikan dengan menugaskan
siswa mengerjakan soal-soal atau mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
yang diberikan pada lembar kerja siswa (LKS). Sebaiknya siswa mengerjakan satu
atau dua soal, guru memberikan umpan balik dengan segera, serta memanggil
secara acak agar seluruhnya mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan.
b. Kegiatan
kelompok/kelas
Selama kegiatan kelompok guru
hanya bertindak sebagai fasilitator yang memonitor kegiatan setiap kelompok.
Dalam menyelesaikan tugas kelompok, siswa mengerjakannya secara mandiri atau
berpasangan dan selanjutnya saling mencocokkan jawabannya atau memeriksa
ketepatan jawabannya dengan jawaban kelompok. Jika ada teman yang belum
memahami, teman sekelompoknya bertanggung jawab untuk menjelaskan sebelum
meminta bantuan guru.
c. Evaluasi
Evaluasi dikerjakan siswa
secara individu dalam waktu yang telah ditentukan oleh guru. Pada saat evaluasi
berlangsung siswa harus menunjukkan apa yang telah dipelajari saat bekerja
dengan kelompoknya. Skor yang diperoleh siswa dalam evaluasi selanjutnya
diproses untuk menentukan nilai perkembangan individu yang akan disumbangkan
sebagai skor kelompok.
d. Penghargaan kelompok
Untuk menentukan penghargaan kelompok terlebih
dahulu dihitung skor tes individu dengan tujuan untuk menentukan nilai
perkembangan individu yang disumbangkan sebagai skor kelompok. Nilai
perkembangan individu dihitung berdasarkan selisih perolehan skor tes dahulu
dengan skor tes akhir. Dengan demikian setiap anggota kelompok memiliki
kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan skor maksimal bagi
kelompoknya.untuk mendapatkan nilai
kelompok dilakukan dengan empat cara yaitu :
1)
Menentukan nilai dasar (ND)
Nilai dasar
awal meliputi nilai rata-rata siswa pada tes terdahulu atau dapat juga
digunakan nilai pre-tes. Selain itu nilai tahun lalu juga bisa digunakan
seandainya diawal tahun pelajaran.
2)
Peningkatan poin
Siswa
menghasilkan poin untuk kelompok mereka berdasarkan pada tingkat nilai tes
mereka melebihi nilai dasar.
Tabel 2
Peningkatan
poin
|
Nilai tes
|
Poin
|
|
Lebih 10 poin dibawah nilai dasar (X<ND – 10 )
|
5
|
|
10 – 1
di bawah nilai dasar (EL –10 £ X < ND – 1 )
|
10
|
|
Kurang
10 poin di atas nilai dasar (EL– £ X < ND +10)
|
20
|
|
Lebih 10
poin di atas nilai dasar (X ³ ND – 10 )
|
30
|
3)
Nilai kelompok
Untuk
menghitung nilai kelompok, catat setiap nilai pada lembaran akhir kelompok dan
pada peningkatan total poin setiap anggota kelompok dengan jumlah kelompok yang
ada. Jadi jelaslah bahwa nilai diperoleh berdasarkan pada nilai peningkatan
daripada nilai tes.
Tabel 3
Nilai Kelompok
Rata- rata kelompok |
Penghargaan |
|
15
|
“Good team”
|
|
20
|
“Great team”
|
|
25
|
“Super team”
|
Table 4. Contoh
penghitungan nilai rata-rata kelompok berdasarkan TIPE STAD yang diambil dari
nilai kuis tiap kali pertemuan
Siklus : I
Pertemuan : I
Kelompok : Aristoteles
|
No.
|
Nama Siswa
|
Pre tes (P)
|
Kuis(K)
|
K – P
|
Poin
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
|
A
B
C
D
E
|
100
50
60
60
20
80
|
80
60
70
70
80
100
|
20
10
10
10
60
20
|
30
20
20
20
30
30
|
|
7.
8.
9.
|
Jumlah
Rata-rata
Penghargaan
|
Super Tim (Bintang
Sains)
|
150
25
|
||
4)
Hitung ulang skor dasar
Setiap
melaksanakan penilaian, nilai rata-rata tes dihitung ulang untuk menentukan
nilai dasar siswa yang baru.
Setelah 3 atau 4 kali pertemuan dari proses pembelajaran
STAD atau pada akhir masa penilaian, kelompok
siswa disusun ulang membentuk kelompok yang baru. Ini memberikan
kesempatan kepada siswa yang memiliki nilai kelompok rendah untuk mendapatkan
nilai kelompk yang lebih baik.
Dari uraian
di atas dapat disimpulkan keunggulan dari Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
STAD antara lain :
1)
Pengetahuan yang diperoleh dibangun sendiri melalui
interaksi dengan orang lain. Hal ini menyebabkan pengetahuan yang diperoleh
menjadi lebih bermakna
2)
Sistem evaluasi dalam pembelajaran kooperatif Tipe STAD
membangkitkan motivasi siswa untuk berusaha lebih giat lagi baik bagi dirinya
sendiri maupun kelompoknya, sehingga sifat kerja sama antar siswa terjalin dengan
baik.
3)
Setiap siswa mampu dan berani mengeluarkan pendapat,
karena dalam kelompok terjadi kerja sama yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kencana,
Mirah. 2005. Pengaruh Pembelajaran Konstruktivisme Sistem
Kooperatif Dalam Bentuk Student Teams Achievement Divisions (STAD) Terhadap
Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas II Semester I SMA Negeri 8 Padang (Skripsi).
Padang:UNP
2. Nur,
Muhammad.2002. Pembelajaran Kooperatif. Jawa Timur : LPMP: Jawa
Timur
3. Slavin,
Robert E . 1995. Educational Psycology Theory and Practice. Boston:
Allyn and Bacon
4. Wiranata, Udin S. 2001. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: PAU-PAI Universitas Terbuka